Pesan dari Mbah Surokarto Kamidin yang disampaikan oleh Mbah Harjo Kardi

Mbah Suro Sentiko  memegang putusan 4001 (empat ribu satu) yaitu Kanjeng Jawa, Tinggi Jawa, Tunggu Rakyat yang maksudnya Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila.  

Tingkah laku yang diajarkan oleh mbah Suro Sentiko  jangan sampai melakukan drengki, srei, dahwen, kemeren dan semena-mena terhadap sesama manusia. Jadi itulah yang diajarkan oleh mbah Suro Sentiko   kepada anak cucunya. Maka dari itu mbah Suro Sentiko   tidak mau membayar pajak pada jaman penjajahan Belanda, karena pada saat itu yang memerintah bukan bangsa Indonesia sendiri. Jadi pada waktu dulu mbah Suro Sentiko   berpesan kepada anak cucunya yang bertempat tinggal dimanapun supaya tidak membayar pajak pada bangsa Belanda. Yang diinginkan mbah Suro Sentiko   semua anak cucunya bisa manunggal menjadi satu untuk melawan bangsa Belanda.  

Belum sampai selesai membahas masalah persatuan dalam melawan Belanda mbah Suro Sentiko   ditangkap oleh bangsa Belanda tepatnya pada tahun 1907. Mbah Suro Sentiko   ditangkap oleh Belanda dengan tujuan untuk dibunuh, cara yang dilakukan oleh bangsa Belanda (Tuan Asisten) yaitu :

1. Dengan cara membronjong mbah Suro Sentiko   kemudian dibuang ke laut, setelah Tuan Asisten pulang sampai di rumah, mbah Suro Sentiko   juga sudah ada di rumah Tuan Asissten.

2. Dengan cara ditembak di halaman rumah Tuan Asisten, tetapi malah yang kesakitan istri Tuan Asisten sendiri. 

3. Dengan cara diberi minuman beracun, sebelum diminum mbah Suro Sentiko   bertanya “ iki opo (ini apa) ? “, Tuan Asisten menjawab “ iki wedang (ini kopi) “, “ Wedang po enak (kopi apa enak) ? “ Tanya mbah Suro Sentiko   yang kedua, Tuan Asisten juga menjawab “ enak “, setelah ada jawaban dari Tuan Asisten “enak” mbah Suro Sentiko   langsung meminum racun yang diberikan Tuan Asisten yang sudah berubah menjadi kopi dan mbah Suro Sentiko   tetap selamat. Akhirnya bangsa Belanda merasa kesal karena dengan berbagai macam cara tidak bisa membunuh  mbah Suro Sentiko   di buang ke Digul, Irian Jaya kemudian dipindahkan ke Padang Sumatra sampai wafat tepatnya pada tahun 1914.

Tujuan menolak membayar pajak disini adalah perang yang tidak tampak dapat dikatakan jarum yang masuk air (dom sumuruping banyu). Kenapa bisa dikatakan seperti ini karena dalam perang ini tidak menggunakan senjata dengan alasan mbah Suro Sentiko   tidak mau membunuh orang, tidak mau memukul orang, harus sabar. Perang dalam melawan Belanda ini bisa disebut Sirep (bahasa Jawa).

Perang ini dilakukan oleh orang SAMIN. Dinamakan SAMIN yang maksudnya SAMA yaitu bersatu bersama-sama dengan anak cucu untuk melawan Belanda membela bangsa Indonesia.

Pada saat itu mbah Suro Sentiko   berpesan kepada anaknya yang bernama:

1. Karto Kemis  

2. Suro Kidin (Menantu)

Pesannya  Mbah Suro Sentiko   adalah semua anak cucu harus mempertahankan negara dan mengikuti arus air.yang dimaksud arus air dalam hal ini adalah situasi saat sekarang. Selain itu pesan beliau kita harus dibelakang jangan di depan, yang maksudnya kalau di depan akan ditendang kalau dibelakang akan diberi pertolongan. Pada saat itu mbah Suro Sentiko   berada di luar jawa. Selain itu pesannya kepada anak cucu berbunyi meskipun bertahun-tahun, berwindu-windu saya (Mbah Suro Sentiko  ) akan kembali ke Jawa jangan lupa sama saya (Mbah Suro Sentiko  ) bertempat di pohon yang besar. Yang dimaksud pohon yang besar adalah pemerintahan dan pengikutnya semakin banyak oleh karena itu anak cucu tidak boleh takut. Pesannya juga berbunyi mbah Suro Sentiko   akan merasakan sengsara tidak apa-apa namun nantinya anak cucunya akan merasakan enaknya (merdeka). Pesan yang paling utama adalah anak cucu harus sabar, jangan mempunyai pikiran untuk memiliki kepunyaan orang lain, semena-mena terhadap sesama manusia, dan tidak boleh mengambil barang milik orang lain meskipun menemukan harus dikembalikan. Orang ingin adil dan makmur itu berat maka tingkatkan usaha di bidang masing-masing. Dengan pesan-pesan tersebut anaknya tidak bisa meneruskannya akhirnya diteruskan oleh anak menantunya yang bernama Suro Kidin.

Akhirnya perjuangan mbah Suro Sentiko   diteuskan oleh menantunya yang bernama Soro Kidin dalam perjuangannya menantunya tetap menolak membayar pajak kepada Belanda. Karena pada saat itu Suro Kidin mempunyai anak kecil maka dalam berjuang melawan Belanda dibantu oleh anak angkatnya yang bernama Suro Karto Kamidin.  

Surokarto Kamidin diperintahkan untuk memberi kabar kepada anak cucunya agar tidak drengki, srei, dahwen, kemeren, jangan semena-mena kepada orang lain untuk melanjutkan ajaran mbah Suro Sentiko  . Ajaran yang diberikan oleh mbah Suro Sentiko   tetap terus dilanjutkan meskipun orangnya sudah meninggal sampai-sampai negara sudah merdeka masih tetap menolak membayar pajak karena mereka kebanyakan bertempat tinggal di hutan.  

Karena mendengar negara sudah merdeka Surokarto Kamidin pergi ke Jakarta menghadap Pak Karno (Presiden Sukarno). Disana dia bertanya kebenarannya peraturan yang sedang dijalankan. Sepulangnya dari Jakarta dia langsung memberitahukan kepada anak cucunya supaya taat kepada pemerintahan karena yang memerintah sudah bangsa Indonesia (orang Jawa diperintah oleh orang Jawa sendiri). Seperti keinginan mbah Surokarto Kamidin (mbah Suro Jepang), karena dia telah menerima pesan dari mbah Suro Kidin dimana mbah Suro Kidin menerima pesan dari mbah Suro Sentiko  . Mbah Suro Sentiko   pernah mengatakan kalau beso sudah ada Kanjeng Jawa, Tinggi Jawa, Tunggu Jawa itulah yang namanya merdeka. Dia setuju sekali karena anak cucunya yang sekarang diperintah untuk taat kepada pemerintahan.  

Akhirnya mbah Surokarto Kamidin menyuruh anak lelakinya yang buta huruf yang bernama Kardi (Hardjo Kardi) untuk memberitahukan kepada anak cucunya. Surokato Kamidin berpesan kepada anak lelakinya agar besok bila dewasa bisa meneruskan ajaran yang sudah dilaksanakan sekarang. Ajarannya agar tidak drengki, srei,  dahwen, kemeren, semena-mena kepada orang lain. Apabila semua orang menjalankan ajaran tersebut maka itulah yang dinamakan adil makmur karena tidak ada orang yang mencuri.  

Dengan berjalannya waktu Hardjo Kardi sudah dewasa, dalam menjalani hidup beliau mempunyai empat pedoman yaitu: merah, hitam, kuning, putih yang dapat dipecah menjadi delapan yaitu pangganda, pangrasa, pangrungon, pangawas.

o Putih untuk dasar  

o Hitam untuk kesenangan(senang)  

o Kuning untuk pedoman tingkah laku

o Merah untuk sandang pangan (Angkoro Murko)  

Maka dari itu manusia harus waspada, kalau senang jangan asal senang. Senang dibagi menjadi dua yaitu: senang kepada yang baik dan senang kepada yang jelek. Kalau senang kepada yang baik mari kita lakukan tetapi untuk senang kepada yang jelak mari kita tinggalkan.

PANGGANDA  

Pangganda ini dibagi dua: ganda (bau) yang baik dan ganda (bau) yang jelek. Bila ganda yang baik mari dilakukan sedangkan ganda yang jelek mari kita tinggalkan. Maka dari itu kalau orang tahu jangan asal tahu. Tahu orang atau tahu sandang pangan. Kalau tahu orang harus ingat milik sendiri maksudnya kalau tahu sandang pangan hingga kemanapun diikuti itu dinamakan orang keliru.

PANGRASA

Pangrasa juga dibagi menjadi dua yaitu rasa benar dan rasa salah. Kalau rasa benar mari dilakukan, kalau rasa salah mari ditinggalkan.

PANGRUNGON  

Pangrungon juga dibagi dua yaitu mendengar yang baik dan mendengar yang jelek. Mendengar jangan asal mendengar apabila mendengar yang baik mari kita lakukan dan sebaliknya apabila mendengar yang jelek mari kita tinggalkan.

PANGAWAS  

Pangawas juga dibagi menjadi dua yaitu melihat yang baik dan melihat yang buruk. Maka dari itu kalau melihat jangan asal melihat, kalau melihat harus tahu milik sendiri, kalu melihat yang jelak sebaiknya ditinggalkan.

Dari penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan kalau semua orang dapat menghayati hal tersebut maka akan mengerti pribadi masing-masing.  

Setelah memiliki empat pedoman akan mengerti posisi pribadi kita. Dengan empat pedoman tersebut Hardjo Kardi menggabungkannya dengan ide yang dimilikinya yaitu dengan menciptakan sesuatu yang dapat berguna untuk orang banyak meskipun tidak dengan sekolah. Dari situ Hardjo Kardi memiliki keahlian pande besi yang dipergunakan sebagai sarana gotong royong. Sebagai contohnya alat pertanian milik tetangganya yang rusak diperbaikinya, bahkan sampai alat pertanian milik orang lain yang berada di lain daerah juga diperbaikiNya.  

Dengan berjalannya waktu Hardjo Kardi semakin tua dan pengetahuannya semakin bertambah. Hardjo Kardi bertempat tinggal di Dusun Jepang Desa Margomulyo, pada saat itu Dusun Jepang termasuk daerah yang buta huruf karena belum ada sekolahan. Ada sekolahan tetapi letaknya jauh yaitu di Desa Sumberjo. Jadi kalau mau sekolah mereka harus menempuh jalan yang jauh dan melewati hutan. Dengan perkembangan jaman akhirnya di Dusun Jepang ada sekolahan meskipun bertempat dirumah empat penduduk. Untuk mendirikan sekolahan dibutuhkan tempat yang luas. Sedangkan untuk tenaga gurunya masih sukwan, artinya guru tersebut dibayar oleh wali murid. Wali murid sama sekali tidak keberatan untuk membayar guru tersebut yang penting anaknya bisa pintar.  

Setelah orde baru dengan bertambah majunya pemerintahan akhirnya Hardjo Kardi bermusyawarah dengan masyarakat untuk mendirikan sekoalhan yang resmi. Akhirnya dengan semangat yang dimiliki oleh masyarakat dan didukung oleh Hardjo Kardi sekolahan yang dicita-citakan dapat terwujud. Sekolahan tersebut dimiliki oleh empat Dusun yaitu Jepang, Kaligede, Tepus dan Batang. Maka semangat gotong-royong dapat terwujud untuk menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.